Ruteng-Wartadetik.com – Suasana Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di SMK St. Aloysius Ruteng, Senin (14/7/2025), awalnya berlangsung santai. Sekitar 200 siswa baru tampak antusias mengikuti berbagai materi pengenalan sekolah.
Namun suasana perlahan berubah lebih serius ketika pemateri dari Densus 88 Antiteror, Iptu Silvester Guntur, berdiri di depan ruangan dan melemparkan sebuah pertanyaan sederhana.
“Siapa di antara adik-adik yang suka bermain game online?” tanya Silvester.
Sontak puluhan tangan terangkat. Beberapa siswa bahkan saling tersenyum dan tertawa kecil. Hampir seluruh peserta mengaku akrab dengan berbagai permainan daring yang dimainkan melalui telepon genggam mereka.
Momen itu kemudian dimanfaatkan Silvester untuk mengajak para siswa melihat sisi lain dari dunia digital yang selama ini dianggap hanya sebagai ruang hiburan.
Ia menjelaskan bahwa di balik perkembangan teknologi dan media sosial, terdapat ancaman yang kini semakin dekat dengan kehidupan anak-anak dan remaja, yakni radikalisme dan terorisme.
“Ada hubungan antara game online dengan persoalan terorisme. Karena sebagian proses perekrutan saat ini banyak memanfaatkan ruang digital, termasuk media sosial dan game online,” kata Silvester.
Di hadapan para siswa baru yang sebagian besar baru memasuki jenjang pendidikan menengah kejuruan, Silvester menegaskan bahwa kelompok radikal saat ini tidak lagi hanya menyasar orang dewasa. Anak-anak dan remaja justru dipandang sebagai kelompok yang paling rentan dipengaruhi.
Menurutnya, ancaman terorisme merupakan persoalan serius karena paham tersebut menghilangkan nilai-nilai kemanusiaan dan menjadikan kekerasan sebagai jalan untuk mencapai tujuan.
“Ketika berbeda pemahaman, orang-orang ini bisa rela membunuh sesama, bahkan keluarga dan orang tua sendiri,” ujarnya.
Ia juga menekankan bahwa terorisme tidak dapat dikaitkan dengan agama, suku, ras, maupun kelompok tertentu.
“Setiap orang berpotensi menjadi teroris, tidak peduli dewasa ataupun anak-anak. Terorisme juga tidak mengenal agama, suku, ras, dan budaya,” tegasnya.
Sebagai gambaran nyata, Silvester mengingatkan para siswa mengenai peristiwa bom bunuh diri di Surabaya pada tahun 2018 yang melibatkan satu keluarga, termasuk anak-anak yang masih berusia sangat muda.
Ia mengungkapkan bahwa secara nasional terdapat sekitar 150 anak yang pernah terpapar kelompok radikal. Sementara di Nusa Tenggara Timur, sedikitnya enam anak pernah terindikasi terpapar paham tersebut.
Kepada para siswa, Silvester menjelaskan bahwa seseorang tidak serta-merta menjadi pelaku teror. Ada proses panjang yang berlangsung secara bertahap.
Semua bermula dari sikap intoleran, yakni ketidakmampuan menerima perbedaan. Sikap tersebut kemudian berkembang menjadi radikalisme, yaitu keinginan melakukan perubahan secara drastis berdasarkan ideologi tertentu. Tahap berikutnya adalah ekstremisme, ketika seseorang mulai membenarkan tindakan di luar batas, termasuk penggunaan kekerasan. Pada tahap paling akhir lahirlah terorisme.
“Semua ini saling berkaitan. Ibarat sebuah pohon, intoleransi adalah akarnya, radikalisme dan ekstremisme merupakan batang, dahan, dan rantingnya, sedangkan terorisme adalah buahnya,” ujar Silvester.
Ia kemudian mengungkapkan bahwa pola perekrutan kelompok radikal kini telah berubah. Jika dahulu perekrutan banyak dilakukan melalui pertemuan langsung, kini ruang digital menjadi medan utama.
“Jadi adik-adik harus lebih waspada. Sangat penting bagi adik-adik memahami cara dan metode yang sering digunakan untuk merekrut anggota baru,” katanya.
Menurutnya, proses perekrutan umumnya dilakukan dalam dua tahap. Pertama, kelompok tersebut menyebarkan propaganda dan gambaran utopis mengenai perjuangan atau perubahan yang dianggap ideal. Ketika target mulai tertarik, masuklah pada tahap kedua, dimana mereka kemudian diarahkan ke ruang komunikasi yang lebih tertutup seperti WhatsApp dan Telegram untuk menjalani proses indoktrinasi serta pembentukan kedekatan emosional.
Untuk menarik perhatian anak-anak dan remaja, berbagai bentuk konten digunakan, mulai dari video, animasi, meme, musik, hingga gambar-gambar bernuansa kekerasan dan sadistis.
Konten tersebut, kata Silvester, dirancang untuk menumbuhkan ketertarikan ideologis serta meyakinkan anak-anak bahwa kekerasan merupakan cara yang benar untuk melawan negara.
“Platform seperti Facebook, Google, TikTok, X, Telegram hingga Snack Video sering menjadi media yang ditemukan memuat konten radikal berdasarkan berbagai hasil analisis dan aduan,” ucapnya.
Karena itu, Silvester mengingatkan para siswa agar lebih bijak menggunakan teknologi digital.
“Kami menghimbau kepada adik-adik, kalau bisa berhenti bermain game online lebih baik, atau paling tidak dikurangi,” ujarnya.
Selain ancaman radikalisme, ia juga menyoroti fenomena baru berupa penyebaran ideologi kekerasan melalui kelompok True Crime Community (TCC).
Menurutnya, secara nasional terdapat sekitar 70 anak yang terpapar ideologi kekerasan melalui komunitas tersebut.
Sebagian besar kasus dipicu oleh berbagai persoalan sosial seperti bullying, kondisi keluarga yang tidak harmonis, kurangnya perhatian orang tua, paparan gawai yang berlebihan, hingga konsumsi pornografi.
“Anak-anak yang terpapar umumnya menunjukkan ketertarikan terhadap kekerasan, mengagungkan pelaku kekerasan sebelumnya, serta meniru simbol dan pola serangan yang pernah terjadi,” ungkapnya.
Mereka bahkan diketahui saling berbagi informasi mengenai cara membuat bom, senjata api rakitan, dan senjata tajam. Beberapa di antaranya membeli replika senjata, busur panah, pisau, bubuk belerang, hingga perangkat elektronik untuk merencanakan aksi penyerangan terhadap orang yang dianggap sebagai pembuli.
Silvester menegaskan bahwa praktik perundungan menjadi salah satu faktor yang dapat mendorong anak terjerumus ke dalam ideologi kekerasan.
“Bullying menyebabkan seseorang mengalami frustrasi. Dalam kondisi seperti itu, korban menjadi sangat mudah dimanfaatkan oleh kelompok-kelompok yang menyebarkan paham kekerasan,” katanya.
Ia menyebutkan, saat ini tercatat sedikitnya 13 anak pelaku teror memiliki latar belakang sebagai korban bullying.
Selain itu, para siswa juga diingatkan mengenai ancaman lain yang tidak kalah serius, yakni pergaulan bebas, eksploitasi seksual, serta perdagangan seksual terhadap anak yang kini juga marak terjadi melalui ruang digital.
Pada kesempatan tersebut, Silvester turut menjelaskan berbagai upaya pemerintah dalam melindungi anak di internet, salah satunya melalui Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Perlindungan Anak.
Ia juga menyinggung Surat Edaran Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga Kabupaten Manggarai Nomor B/1690/400.3.12/III/2026 mengenai pembatasan penggunaan telepon seluler di lingkungan pendidikan.
Menurutnya, kebijakan tersebut merupakan langkah penting untuk mengurangi dampak negatif penggunaan gawai dan menciptakan lingkungan belajar yang lebih sehat.
Menutup materinya, Silvester mengajak seluruh siswa baru untuk memperkuat nilai-nilai Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika, menghargai perbedaan, menggunakan media sosial secara bijak, aktif dalam berbagai kegiatan positif, serta menolak segala bentuk perundungan dan komunitas berbasis kekerasan.
“Bersama kita wujudkan sekolah yang aman, nyaman, dan bebas dari radikalisme serta kekerasan,” pungkasnya.
Penulis:Emanuel







