WARTADETIK.COM.SUMENEP – Pemerintah Desa (Pemdes) Lobuk bersama Ranting Nahdlatul Ulama (NU) Lobuk kembali menghadirkan peringatan Tahun Baru Islam yang dikemas lebih inklusif dan bermanfaat bagi masyarakat. Bertajuk Festival 10 Muharram 1448 Hijriah, kegiatan ini menjadi ruang kolaborasi antara pemerintah desa, organisasi keagamaan, dan tenaga kesehatan dengan menghadirkan program keagamaan, layanan kesehatan gratis, hingga pelestarian budaya leluhur dalam satu rangkaian acara.

Festival yang mengusung tema “Menebar Manfaat, Sejuta Khidmat” tersebut digelar pada Jumat, 26 Juni 2026, di Masjid Raudhatul Qur’an, Dusun Kopao, Desa Lobuk, Kecamatan Bluto, Kabupaten Sumenep. Kolaborasi ini melibatkan Pemdes Lobuk, Ranting NU Lobuk, Puskesmas Bluto, serta Klinik Utama Sumenep yang secara khusus memberikan pelayanan pemeriksaan kesehatan mata bagi masyarakat secara cuma-cuma.

Kepala Desa Lobuk, Moh. Saleh, S.Pd.I., M.M., mengatakan bahwa festival ini merupakan bentuk nyata sinergi lintas sektor untuk menghadirkan kegiatan yang tidak hanya bernilai religius, tetapi juga memberikan manfaat langsung bagi warga. Menurutnya, momentum 10 Muharram harus mampu menjadi ruang memperkuat persatuan sekaligus meningkatkan kepedulian terhadap sesama.

“Festival 10 Muharram ini merupakan hasil kerja sama antara Pemerintah Desa Lobuk, Ranting NU Lobuk, Puskesmas Bluto, dan Klinik Utama Sumenep. Kami ingin menghadirkan kegiatan yang bukan hanya bersifat seremonial, tetapi benar-benar memberikan manfaat nyata melalui layanan kesehatan, penguatan nilai keagamaan, dan pelestarian budaya yang menjadi identitas masyarakat,” ujar Moh. Saleh.

Kades Saleh menambahkan, Pemerintah Desa Lobuk akan terus mendorong kolaborasi serupa pada berbagai kegiatan kemasyarakatan. Ia berharap semangat gotong royong yang dibangun melalui festival ini dapat memperkuat kebersamaan sekaligus menjadi contoh bahwa pembangunan desa tidak hanya berorientasi pada infrastruktur, tetapi juga pada pembangunan karakter, kesehatan, dan kehidupan sosial masyarakat.

“Kami berharap Festival 10 Muharram menjadi agenda yang mampu menyatukan seluruh elemen masyarakat. Ketika pemerintah, organisasi keagamaan, tenaga kesehatan, dan warga berjalan bersama, maka manfaatnya akan dirasakan lebih luas dan mampu memperkuat semangat kebersamaan di Desa Lobuk,” tambahnya.

Sementara itu, Ketua Ranting NU Lobuk, Dr. Mufiqurrahman, menjelaskan bahwa kegiatan diawali dengan Khatmil Qur’an sebagai bentuk ikhtiar spiritual untuk menyambut Tahun Baru Islam. Menurutnya, nilai utama yang ingin dibangun bukan sekadar menyelesaikan bacaan Al-Qur’an, tetapi juga menghidupkan semangat mengamalkan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari melalui aksi nyata yang dirasakan masyarakat.

“Tema ‘Menebar Manfaat, Sejuta Khidmat’ menjadi pesan bahwa dakwah harus diwujudkan dalam bentuk pelayanan kepada masyarakat. Karena itu, Festival 10 Muharram tidak hanya menghadirkan Khatmil Qur’an, tetapi juga pelayanan kesehatan gratis dan pelestarian budaya sebagai bagian dari pengabdian Nahdlatul Ulama kepada umat,” tutur Dr. Mufiqurrahman.

Selain kegiatan keagamaan, masyarakat juga dapat memanfaatkan pemeriksaan kesehatan gratis yang disediakan oleh Puskesmas Bluto. Khusus pelayanan kesehatan mata, pemeriksaan dilakukan oleh tenaga medis dari Klinik Utama Sumenep, sehingga masyarakat memperoleh akses pemeriksaan kesehatan secara lebih lengkap tanpa dipungut biaya.

Kepala Puskesmas Bluto, dr. Rifmi Utami, M.Kes., menyampaikan bahwa keterlibatan tenaga kesehatan dalam Festival 10 Muharram merupakan bagian dari komitmen menghadirkan layanan kesehatan yang lebih dekat dengan masyarakat. Menurutnya, pemeriksaan kesehatan secara berkala menjadi langkah penting untuk mendeteksi dini berbagai penyakit sehingga penanganannya dapat dilakukan lebih cepat.

“Kami mendukung penuh kegiatan ini karena pelayanan kesehatan merupakan kebutuhan dasar masyarakat. Melalui pemeriksaan kesehatan umum dan pemeriksaan mata secara gratis, kami berharap masyarakat semakin sadar pentingnya menjaga kesehatan serta melakukan deteksi dini agar kualitas hidup mereka semakin baik,” kata dr. Rifmi Utami.

Tak hanya menghadirkan nuansa religius dan pelayanan kesehatan, festival juga diramaikan dengan Jamasan Pusaka Leluhur, meliputi pencucian keris, tombak, dan berbagai pusaka tradisional lainnya. Tradisi tersebut menjadi simbol penghormatan terhadap warisan budaya sekaligus upaya menjaga nilai-nilai kearifan lokal agar tetap hidup dan diwariskan kepada generasi muda.

Melalui kolaborasi lintas sektor tersebut, Festival 10 Muharram 1448 Hijriah di Desa Lobuk diharapkan menjadi momentum memperkuat ukhuwah Islamiyah, meningkatkan kepedulian sosial, serta meneguhkan komitmen bersama dalam membangun masyarakat yang religius, sehat, berbudaya, dan memiliki semangat gotong royong yang kuat.