MAKASSAR — Wartadetik.com – Setiap perjalanan pengabdian seorang aparatur pada akhirnya akan sampai pada satu titik yang disebut purna bakti. Namun, bagi mereka yang telah menghabiskan sebagian hidupnya untuk bekerja dan melayani, masa pensiun bukanlah akhir dari sebuah pengabdian. Purna bakti justru menjadi ruang untuk mengenang perjalanan, menghitung jejak kebaikan, sekaligus membuka lembaran kehidupan yang baru.

Momentum tersebut kini dilalui Iskandar A. Thalib, S.Sos., M.M., Yang Biasa Di Sapa Kak Is , Arsiparis Ahli Madya pada Dinas Kearsipan Kota Makassar. Setelah menjalani perjalanan panjang selama 36 tahun pengabdian, berkecimpung dalam dunia pemerintahan serta kearsipan, Iskandar memasuki masa purna tugas. Sebuah fase yang membawa beragam rasa, mulai dari haru meninggalkan rutinitas kedinasan, bahagia karena telah menuntaskan amanah, hingga rasa bangga karena pernah menjadi bagian dari perjalanan pelayanan pemerintahan.

36 tahun bukanlah waktu yang singkat. Ada begitu banyak pengalaman, tanggung jawab, dinamika pekerjaan dan perjalanan pengabdian yang telah dilalui. Dari satu tugas ke tugas lainnya, dari satu tanggung jawab ke tanggung jawab berikutnya, perjalanan tersebut menjadi bagian dari kehidupan Iskandar sekaligus menjadi catatan tersendiri dalam perjalanan birokrasi pemerintahan dan dunia kearsipan.

Berdasarkan data biografinya, Iskandar lahir di Makassar pada 14 Agustus 1966. Perjalanan pendidikannya ditempuh mulai dari SD Negeri Tauladan Pongtiku Makassar dan lulus pada 1980, kemudian SMP Negeri 10 Makassar hingga lulus pada 1983, serta SMA Negeri 15 Makassar yang diselesaikan pada 1987.

Ia kemudian melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi dan menyelesaikan pendidikan S1 di Lembaga Administrasi Negara (LAN) RI pada 1991. Pendidikan tersebut kemudian dilanjutkan ke jenjang S2 di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Yayasan Ujung Pandang dan diselesaikan pada 2010.

Bekal pendidikan tersebut menjadi bagian penting dalam perjalanan panjang Iskandar menjalankan tugas di lingkungan pemerintahan, khususnya dalam bidang administrasi dan kearsipan. Dalam perjalanan kariernya, ia pernah dipercaya sebagai Kepala Sub Bidang Pembinaan Kearsipan pada Dinas Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan terhitung sejak 28 April 2011 hingga 28 April 2013. Setelah itu, ia melanjutkan pengabdiannya sebagai Sekretaris Camat Taneteriattang, Kabupaten Bone, sejak 30 Juli 2013 hingga 20 Juli 2016.

Pengalaman tersebut terus berkembang hingga Iskandar kembali menjalankan tugas di lingkungan Pemerintah Kota Makassar. Ia tercatat pernah menjabat sebagai Pelaksana Tugas Kepala Sub Bagian Perencanaan dan Keuangan pada Dinas Perpustakaan Kota Makassar pada periode 31 Desember 2022 hingga 31 Desember 2023. Selanjutnya, sejak 14 Agustus 2023 hingga memasuki masa purna bakti, Iskandar menjalankan tugas sebagai Arsiparis Ahli Madya pada Dinas Kearsipan Kota Makassar.

Perjalanan tersebut memperlihatkan bahwa pengabdian Iskandar tidak berlangsung hanya dalam satu ruang kerja. Ada proses, perpindahan tugas, pengalaman birokrasi serta tanggung jawab yang terus berkembang dari waktu ke waktu. Bagi dunia kearsipan, pekerjaan mungkin tidak selalu terlihat di ruang publik. Namun, di balik dokumen, arsip dan berbagai catatan perjalanan pemerintahan, terdapat tanggung jawab besar untuk memastikan setiap rekam jejak administrasi tetap terjaga dan dapat menjadi bagian penting dari sejarah pemerintahan.

Di situlah pengabdian seorang arsiparis memiliki makna tersendiri. Iskandar menjadi salah satu sosok yang menjalani tugas tersebut. Pengabdian yang dilalui tidak hanya berbicara tentang pekerjaan dan jabatan, tetapi juga tentang ketekunan, tanggung jawab serta kesediaan menjaga sesuatu yang mungkin tidak selalu terlihat, namun memiliki nilai penting bagi organisasi dan masyarakat.
Panjang perjalanan pengabdian tersebut juga mendapat pengakuan melalui penghargaan negara. Iskandar tercatat menerima penghargaan Satyalancana Karya Satya 30 Tahun dari Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto. Penghargaan tersebut menjadi salah satu penanda atas panjangnya masa pengabdian dan loyalitas yang telah diberikan selama menjalankan tugas sebagai aparatur negara.

Penghargaan tersebut bukan sekadar tanda jasa yang melekat pada perjalanan seorang aparatur. Lebih dari itu, Satyalancana Karya Satya menjadi simbol bahwa puluhan tahun pengabdian menyimpan cerita tentang konsistensi, kedisiplinan dan kesetiaan dalam menjalankan amanah kedinasan.

Di balik penghargaan itu terdapat perjalanan panjang yang tidak selalu mudah, dengan berbagai tuntutan pekerjaan dan tanggung jawab yang harus dijalani dari waktu ke waktu.
Pengabdian Iskandar juga tercatat dalam perjalanan organisasi profesi. Dalam data biografinya, ia pernah dipercaya sebagai Koordinator Arsiparis Sulawesi Selatan pada periode 2008 hingga 2013. Ia juga pernah mengemban amanah sebagai Ketua Departemen SDM pada Asosiasi Arsiparis Indonesia pada periode 2010 hingga 2015. Pengalaman tersebut menjadi bagian lain dari perjalanan panjangnya dalam dunia kearsipan, bukan hanya menjalankan tugas sebagai aparatur, tetapi juga ikut mengambil bagian dalam pengembangan sumber daya manusia dan organisasi profesi.

Memasuki masa purna bakti, apresiasi dan ucapan terima kasih disampaikan oleh Kepala Dinas Kearsipan Kota Makassar, Fahyuddin, A.P., M.H., beserta jajaran dan keluarga besar Dinas Kearsipan Kota Makassar. Ucapan tersebut menjadi bentuk penghargaan atas kontribusi dan dedikasi Iskandar selama menjalankan tugas dan pengabdian di lingkungan pemerintahan, khususnya dalam bidang kearsipan.

Ucapan selamat juga datang dari Kepala BPSDM dan Plt. DPK Provinsi Sulawesi Selatan, Muhammad Jufri, yang turut menyampaikan apresiasi atas berakhirnya masa tugas Iskandar. Pesan yang disampaikan menjadi bentuk penghormatan sekaligus doa agar masa purna bakti dapat dijalani dengan kebahagiaan, kesehatan dan ketenangan.
Pada akhirnya, perjalanan panjang tersebut sampai pada sebuah fase yang disebut purna bakti. 36 tahun pengabdian telah menjadi bagian dari perjalanan hidup Iskandar. Pensiun memang mengakhiri kewajiban sebagai seorang aparatur, tetapi tidak serta-merta menghapus nilai dari pengabdian yang pernah diberikan. Apa yang telah dikerjakan akan tetap menjadi bagian dari perjalanan organisasi, sementara pengalaman dan keteladanan yang ditinggalkan dapat menjadi pembelajaran bagi generasi yang melanjutkan tugas.

Kini, setelah sekian lama bergelut dengan dinamika pekerjaan dan tanggung jawab kedinasan, Iskandar memiliki kesempatan untuk menikmati waktu yang mungkin selama ini tidak selalu tersedia. Lebih banyak waktu bersama keluarga, lebih banyak ruang untuk menikmati kehidupan, serta kesempatan untuk melihat kembali perjalanan panjang yang telah dilalui dengan segala suka dan dukanya.

Penghargaan Satyalancana Karya Satya 30 Tahun menjadi salah satu pengingat bahwa perjalanan tersebut pernah dicatat dan dihargai negara. Namun, sejatinya nilai sebuah pengabdian tidak hanya terletak pada penghargaan yang diterima, melainkan pada manfaat yang pernah diberikan, pekerjaan yang dituntaskan dan jejak kebaikan yang ditinggalkan bagi lingkungan kerja serta orang-orang yang pernah berjalan bersamanya.

Purna bakti bukan tentang berhentinya seseorang memberi arti. Purna bakti hanya menandai berakhirnya satu fase pengabdian secara kedinasan dan dimulainya fase kehidupan yang baru.
Selamat memasuki masa purna bakti, Iskandar A. Thalib, S.Sos., M.M. Terima kasih atas pengabdian, dedikasi dan kontribusi yang telah diberikan selama 36 tahun perjalanan panjang di dunia pemerintahan dan kearsipan.

Sebab, jabatan boleh berakhir, masa tugas boleh selesai, tetapi jejak pengabdian akan selalu tinggal dalam ingatan.

 

Penulis : KA