WARTADETIK.COM.SUMENEP – Pengalaman menunaikan ibadah haji 2026 meninggalkan jejak spiritual yang mendalam bagi H. Musahnan. Di antara seluruh rangkaian ibadah di Tanah Suci, fase Armuzna – Arafah, Muzdalifah, dan Mina menjadi bagian yang paling membekas dalam ingatannya. Di tempat itulah, menurutnya, kekuatan fisik, keteguhan mental, dan keikhlasan seorang muslim benar-benar diuji.

Bagi Ketua MP3S, H. Musahnan, Armuzna bukan sekadar rangkaian wajib haji, melainkan puncak perjalanan spiritual yang mempertemukan seorang hamba dengan berbagai ujian sekaligus limpahan rahmat Allah SWT.

“Puncak ibadah haji itu berada di Armuzna karena seluruh rangkaian ibadah dilaksanakan secara beruntun. Kondisi fisik benar-benar diuji. Kalau tidak kuat, kita membutuhkan bantuan. Alhamdulillah semuanya tetap bisa dilalui karena ada pertolongan Allah dan bantuan dari para petugas,” kata H. Musahnan saat menceritakan pengalamannya kepada media ini, Jum’at (26/06/2026).

Di antara seluruh lokasi yang disinggahi, Padang Arafah menjadi tempat yang paling mengguncang batinnya. Jutaan jamaah yang larut dalam doa dan munajat menghadirkan suasana yang sulit digambarkan dengan kata-kata. Baginya, Arafah menghadirkan kesadaran bahwa seluruh manusia berdiri sama di hadapan Sang Pencipta.

“Saat berada di Arafah, saya merasakan suasana yang tidak pernah saya rasakan sebelumnya. Seolah-olah sedang berhadapan langsung dengan Allah SWT. Hampir semua jamaah menangis, memohon ampun, dan berdoa dengan penuh harapan. Momen itu benar-benar menyentuh hati saya,” ujarnya.

Selama menjalani ibadah haji, H. Musahnan juga menyaksikan berbagai peristiwa yang semakin menguatkan keyakinannya tentang kebesaran Allah SWT. Menurutnya, kemampuan menyelesaikan rangkaian ibadah tidak semata ditentukan oleh kondisi fisik, melainkan oleh kehendak Allah.

Ia mengisahkan, ada jamaah yang secara fisik tampak sehat dan bugar, namun mengalami hambatan saat menjalankan ibadah. Sebaliknya, tidak sedikit jamaah lanjut usia yang justru mampu menyelesaikan seluruh rangkaian dengan penuh semangat.

“Saya melihat sendiri ada orang yang kelihatannya sangat sehat, tetapi justru mengalami kesulitan. Sebaliknya, ada jamaah yang sudah sepuh, bahkan berjalan tertatih-tatih, tetapi mampu menyelesaikan seluruh rangkaian ibadah dengan baik. Di situlah saya menyaksikan kebesaran Allah yang nyata,” tutur H. Musahnan.

Selain ujian fisik, pengalaman yang paling banyak mengajarkan dirinya adalah pentingnya kesabaran. Proses perpindahan antar lokasi ibadah yang kerap membutuhkan waktu panjang membuat setiap jamaah harus mampu mengendalikan emosi dan menjaga ketenangan.

Menurut H. Musahnan, waktu menunggu transportasi sambil membawa perlengkapan pribadi memang cukup melelahkan. Namun, kondisi tersebut justru menjadi bagian dari pendidikan spiritual yang tidak dapat dipisahkan dari ibadah haji.

“Haji mengajarkan kami untuk terus bersabar. Menunggu kendaraan berjam-jam sambil membawa tas memang melelahkan, tetapi di situlah ujian sesungguhnya. Kesabaran, keikhlasan, dan kemampuan menahan diri menjadi pelajaran terbesar yang saya bawa pulang dari Tanah Suci,” pungkasnya.

Pengalaman H. Musahnan menunjukkan bahwa ibadah haji bukan sekadar perjalanan menuju Tanah Suci, melainkan perjalanan untuk membentuk karakter seorang muslim. Di Armuzna, setiap langkah, setiap doa, dan setiap ujian menjadi ruang pembelajaran tentang tawakal, kesabaran, serta keyakinan bahwa pertolongan Allah SWT selalu hadir bagi hamba-Nya yang berserah diri.