MANGGARAI BARAT, NTT — Labuan Bajo- Wartadetik.com – Gempa bumi berkekuatan magnitudo (M) 7,7 yang mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) pada 15 Agustus 2026 meninggalkan kerusakan serius bagi warga Desa Tueng, Kecamatan Kuwus Barat, Kabupaten Manggarai Barat.

Sebanyak 29 unit rumah dilaporkan mengalami kerusakan. Dari jumlah tersebut, sembilan rumah mengalami kerusakan berat hingga tidak lagi layak dihuni.


Kondisi tersebut membuat sejumlah keluarga di Kampung Longos harus menghadapi situasi sulit. Selain kehilangan rasa aman di rumah sendiri, warga juga dihadapkan pada kebutuhan tempat tinggal, makanan, air bersih, serta kebutuhan dasar lainnya setelah bencana.


29 Rumah Rusak, 9 Tak Bisa Dihuni

Berdasarkan keterangan warga, sembilan bangunan yang dilaporkan tidak dapat dihuni lagi merupakan rumah milik:

Vabianus Deleng

Monika Hanud

Agustinus Jarut

Robertus Anwar

Naduds Labut

Maria Sovia Imut

Paulina Nganul

Mateus Sintus

Rumah Adat Kampung Longos

Kerusakan tersebut tidak hanya menyangkut bangunan tempat tinggal warga. Salah satu bangunan yang turut mengalami kerusakan adalah rumah adat Kampung Longos, yang memiliki nilai sosial dan budaya bagi masyarakat setempat.

Awak media yang turun langsung ke Kampung Longos pada Minggu, 23 Agustus 2026, melihat kondisi sejumlah bangunan warga yang mengalami kerusakan akibat guncangan gempa.

Beberapa bangunan terlihat mengalami kerusakan cukup parah dan membutuhkan penanganan lebih lanjut agar tidak membahayakan warga.

Warga Terima Bantuan Awal dari Dinas Sosial Melalui Desa

Terkait bantuan, warga menyampaikan bahwa pada tahap awal setelah kejadian terdapat bantuan dari Dinas Sosial yang disalurkan melalui pemerintah desa.

Menurut keterangan warga, bantuan yang diterima berupa 5 kilogram beras, satu plastik minyak goreng, satu bungkus kopi, satu bungkus gula pasir, satu bungkus biskuit vanila, satu bungkus sambal ABC, serta tiga bungkus mi goreng.

Namun, warga berharap bantuan tersebut tidak berhenti pada bantuan awal. Mengingat masih adanya rumah yang mengalami kerusakan berat dan tidak dapat dihuni, masyarakat meminta perhatian lanjutan dari pemerintah sesuai tingkat kerusakan dan kebutuhan masing-masing keluarga.

Warga Harapkan Bantuan Berkelanjutan Saat melakukan wawancara langsung dengan warga Kampung Longos, awak media memperoleh keterangan mengenai kondisi bantuan yang diterima masyarakat pascabencana.

Salah seorang warga setempat, Eugenius Natanael, menyampaikan bahwa bantuan yang diterima merupakan bantuan awal saat kejadian.

“Ada bantuan sembako saat kejadian awal,” ujar warga setempat. Namun, warga juga mengungkapkan bahwa setelah bantuan awal tersebut, mereka masih membutuhkan bantuan lanjutan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

“Sampai saat ini belum ada bantuan sembako yang kami terima,” ujar Eugenius Natanael.

Keterangan warga tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan masyarakat terdampak masih cukup besar, terutama bagi keluarga yang rumahnya mengalami kerusakan berat dan tidak lagi dapat ditempati.

Rumah Adat Turut Rusak Kerusakan rumah adat Kampung Longos menjadi perhatian tersendiri bagi masyarakat.

Rumah adat bukan sekadar bangunan fisik, tetapi memiliki keterkaitan erat dengan kehidupan sosial dan budaya masyarakat setempat. Karena itu, warga berharap pemerintah dan pihak terkait turut memberikan perhatian terhadap kondisi bangunan adat yang terdampak gempa.

Penanganan diharapkan tidak hanya berfokus pada rumah warga, tetapi juga mencakup bangunan yang memiliki nilai sosial dan budaya bagi masyarakat.

Warga Minta Pemerintah Segera Lakukan Pendataan Menyeluruh Masyarakat Kampung Longos berharap pemerintah daerah maupun pemerintah pusat segera melakukan pendataan kerusakan secara menyeluruh.

Pendataan dinilai penting untuk memastikan rumah-rumah yang mengalami kerusakan ringan, sedang, maupun berat dapat ditangani sesuai kondisi dan kebutuhan warga.

Untuk keluarga yang rumahnya sudah tidak layak dihuni, warga berharap pemerintah dapat memberikan bantuan darurat, termasuk tempat tinggal sementara, kebutuhan pangan, air bersih, serta bantuan dasar lainnya.

Masyarakat juga berharap penyaluran bantuan dilakukan secara tepat sasaran dengan mempertimbangkan tingkat kerusakan rumah dan kondisi masing-masing keluarga terdampak.

Warga Menanti Bantuan Nyata Peristiwa gempa bumi tersebut menjadi pengingat bahwa penanganan bencana tidak berhenti ketika guncangan telah reda.

Bagi warga yang rumahnya rusak berat atau tidak lagi dapat dihuni, dampak bencana masih dirasakan hingga saat ini. Mereka harus mencari tempat yang lebih aman sekaligus memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dalam kondisi serba terbatas.

Warga Kampung Longos kini menanti kehadiran pemerintah dan pihak-pihak terkait. Mereka berharap perhatian yang diberikan tidak hanya sebatas pendataan, tetapi diwujudkan melalui bantuan nyata, penanganan rumah rusak, tempat tinggal sementara, serta pemenuhan kebutuhan dasar bagi keluarga yang terdampak.

Masyarakat berharap kondisi tersebut segera mendapatkan perhatian serius agar warga Kampung Longos dapat kembali menjalani kehidupan dengan rasa aman setelah bencana.

 

Penulis:Emanuel