WARTADETIK.COM.SUMENEP – Di tengah derasnya arus modernisasi dan gempuran budaya digital yang semakin dekat dengan kehidupan anak-anak, SDN Pinggir Papas II, Kecamatan Kalianget, Kabupaten Sumenep, menunjukkan komitmennya dalam menjaga warisan budaya bangsa. Melalui kegiatan ekstrakurikuler karawitan, sekolah ini berhasil menanamkan kecintaan terhadap seni tradisional sekaligus membangun karakter generasi muda yang berakar pada nilai-nilai budaya lokal.

Program karawitan yang dilaksanakan secara rutin dua kali setiap pekan tersebut kini berkembang menjadi salah satu kegiatan unggulan sekolah. Tak hanya diminati para siswa, program ini juga mendapat dukungan penuh dari wali murid dan pihak sekolah karena dinilai mampu menjadi sarana pelestarian budaya yang efektif sejak usia dini.

Buah dari proses pembinaan yang berjalan selama ini akan ditampilkan dalam acara perpisahan siswa SDN Pinggir Papas II yang dijadwalkan berlangsung pada 17 Juni 2026 mendatang. Dalam kegiatan tersebut, kelompok karawitan sekolah akan mengiringi berbagai pertunjukan seni tradisional, mulai dari Tari Muang Sangkal, Tari Topeng hingga sejumlah penampilan budaya lainnya.

Pembina Ekstrakurikuler Karawitan SDN Pinggir Papas II, Syamihudin, mengungkapkan bahwa perkembangan kemampuan siswa dalam memainkan alat musik tradisional menunjukkan hasil yang sangat membanggakan.

“Alhamdulillah, perkembangan ekstrakurikuler karawitan yang kami bina sudah mencapai sekitar 80 hingga 90 persen dari target yang direncanakan. Capaian ini tidak lepas dari dukungan luar biasa kepala sekolah, wali murid, dan semangat anak-anak yang begitu tinggi untuk belajar seni budaya,” kata Syamihudin, Minggu (14/06/2026) malam.

Menurutnya, karawitan tidak hanya mengajarkan keterampilan memainkan alat musik tradisional, tetapi juga menanamkan nilai disiplin, kerja sama, kesabaran, dan kecintaan terhadap identitas budaya bangsa.

“Kami ingin anak-anak tidak sekadar bisa memainkan gamelan atau instrumen karawitan lainnya. Lebih dari itu, mereka harus memahami bahwa budaya adalah jati diri yang harus dijaga dan diwariskan kepada generasi berikutnya,” ujarnya.

Keberhasilan program tersebut mendapat apresiasi dari Kepala SDN Pinggir Papas II, Yudhi Hadipurnomo. Ia menilai kegiatan karawitan telah menjadi media pembelajaran yang mampu mengembangkan potensi siswa secara menyeluruh, baik dari sisi keterampilan maupun pembentukan karakter.

“Kami sangat bangga melihat perkembangan anak-anak. Di tengah era modern saat ini, mereka masih memiliki semangat untuk belajar dan mencintai budaya daerah. Ini merupakan aset berharga yang harus terus dijaga dan dikembangkan,” tutur Yudhi Hadipurnomo.

Lebih lanjut, Yudhi menegaskan bahwa sekolah akan terus memberikan ruang bagi siswa untuk berkreasi sekaligus melestarikan kekayaan budaya Nusantara melalui berbagai kegiatan positif.

“Karawitan bukan hanya kegiatan ekstrakurikuler biasa, tetapi bagian dari upaya sekolah dalam membentuk generasi yang cerdas, berkarakter, dan bangga terhadap budaya leluhurnya. Kami berharap kegiatan ini mampu melahirkan duta-duta budaya dari SDN Pinggir Papas II yang dapat mengharumkan nama sekolah maupun Kabupaten Sumenep,” tegasnya.

Tidak berhenti pada kegiatan internal sekolah, SDN Pinggir Papas II juga memiliki visi yang lebih besar untuk mengembangkan kelompok karawitan menjadi bagian dari berbagai agenda budaya daerah. Sekolah bahkan berencana menjalin sinergi dengan Dinas Pariwisata Kabupaten Sumenep agar para siswa memiliki kesempatan tampil dalam berbagai event budaya dan festival daerah pada tahun pelajaran 2026-2027.

Sebagian besar personel karawitan yang akan tampil pada acara perpisahan berasal dari siswa kelas IV, didukung oleh siswa kelas III, V, dan VI. Mereka telah menjalani latihan secara intensif guna menghadirkan penampilan terbaik di hadapan orang tua, guru, dan tamu undangan.

Melalui denting gamelan yang dimainkan penuh semangat oleh tangan-tangan muda tersebut, SDN Pinggir Papas II tidak hanya sedang mempersiapkan sebuah pertunjukan seni. Lebih dari itu, sekolah ini tengah menanamkan kesadaran bahwa budaya adalah identitas yang harus dijaga, dirawat, dan diwariskan. Dari sebuah sekolah dasar di pesisir Kabupaten Sumenep, semangat pelestarian budaya terus bergema, membuktikan bahwa warisan leluhur akan tetap hidup selama ada generasi yang mencintainya.