WARTADETIK.COM.SURABAYA – Di saat harga kebutuhan pokok terus merangkak naik dan biaya hidup semakin membebani masyarakat, sebuah pesan sederhana namun penuh makna mendadak menghiasi sejumlah sudut Kota Surabaya. Tulisan berbunyi “Turunkan Harga Kami Lapar Cok” muncul di berbagai tembok dan dinding kota, menjadi simbol keresahan warga yang merasa semakin terhimpit oleh tekanan ekonomi.
Coretan tersebut terlihat di sejumlah titik strategis, mulai dari kawasan Jalan Kertajaya, Jalan Dr. Soetomo, Jalan Kertajaya Indah, Jalan Rungkut hingga Jalan Wonokromo. Dengan cat semprot berwarna hitam dan merah, pesan itu mencuri perhatian pengguna jalan dan warga yang melintas setiap hari.
Fenomena ini muncul di tengah meningkatnya harga berbagai kebutuhan pokok yang menjadi konsumsi utama masyarakat. Harga beras, telur ayam, cabai, bawang merah hingga minyak goreng mengalami kenaikan dalam beberapa pekan terakhir. Kondisi tersebut diperparah oleh dampak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang ikut mendorong naiknya biaya distribusi dan transportasi.
Bagi sebagian warga, tulisan yang terpampang di tembok-tembok kota itu bukan sekadar aksi vandalisme. Kalimat tersebut dianggap sebagai representasi kegelisahan masyarakat kecil yang mulai kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Seorang pedagang di kawasan Pasar Keputran mengaku kondisi ekonomi saat ini semakin berat dirasakan oleh pelaku usaha kecil. Menurutnya, kenaikan harga barang dagangan tidak diimbangi dengan peningkatan daya beli masyarakat.
“Kami pedagang kecil yang paling kena dampaknya. Modal belanja terus naik, sementara pembeli semakin berkurang. Tulisan di tembok itu sebenarnya menggambarkan apa yang dirasakan banyak orang sekarang. Wong cilik sudah benar-benar merasakan beratnya hidup,” ujar salah seorang pedagang, Sabtu (13/06/2026).
Keluhan serupa juga datang dari warga Wonokromo yang mengaku harus mengatur ulang pengeluaran rumah tangganya karena harga kebutuhan sehari-hari terus meningkat.
“Kalau harga terus naik sementara penghasilan tidak bertambah, tentu yang paling merasakan adalah rakyat kecil. Mungkin tulisannya terlihat sederhana, tetapi pesan yang ingin disampaikan sangat jelas. Banyak keluarga sekarang harus lebih berhemat karena kondisi ekonomi semakin sulit,” tuturnya.
Menariknya, penggunaan kata “Cok” dalam tulisan tersebut menjadi ciri khas yang sangat lekat dengan budaya Arek Suroboyo. Kata yang umum digunakan dalam percakapan sehari-hari warga Surabaya itu justru membuat pesan protes terasa lebih dekat, lugas, dan mewakili suara masyarakat akar rumput.
Meski sejumlah coretan diketahui telah dibersihkan oleh petugas, dokumentasi foto dan video grafiti tersebut telanjur menyebar luas di media sosial. Beragam tanggapan pun bermunculan. Sebagian menilai tindakan itu sebagai bentuk penyampaian aspirasi yang lahir dari kegelisahan publik, sementara sebagian lainnya menganggap fasilitas umum tetap harus dijaga dari aksi vandalisme.
Hingga kini belum ada pernyataan resmi dari Pemerintah Kota Surabaya terkait kemunculan grafiti protes yang tersebar di berbagai wilayah tersebut.
Di tengah tekanan ekonomi yang dirasakan banyak kalangan, coretan bertuliskan “Turunkan Harga Kami Lapar Cok” kini menjelma menjadi lebih dari sekadar tulisan di tembok.
Pesan itu menjadi cerminan suara masyarakat yang berharap harga kebutuhan pokok kembali stabil dan beban hidup yang mereka tanggung tidak semakin berat.
Apa yang tertulis di dinding-dinding kota itu mungkin hanya terdiri dari beberapa kata. Namun bagi sebagian warga, kalimat tersebut menggambarkan realitas yang sedang mereka hadapi setiap hari: bertahan di tengah biaya hidup yang terus meningkat.







