MAKASSAR — Wartadetik.com – Malam di Makassar sudah larut. Lampu jalan berpendar kuning, menerangi aspal yang mulai sepi. Suara kendaraan berkurang. Toko-toko sudah tutup.
Tapi di sudut jalan itu, masih ada satu langkah yang belum berhenti.
Langkah pelan. Tertatih. Membawa keranjang berisi kerupuk dan aneka kue.
Itulah *Saintang Dg Kebe*.
Usianya sudah senja. Punggungnya mulai membungkuk. Rambutnya memutih. Pendengarannya masih tajam, tapi tenaga dan kakinya tidak lagi sekuat dulu. Seharusnya di usia seperti ini, beliau sudah duduk di rumah. Menikmati teh hangat. Berkumpul dengan cucu. Beristirahat dari segala lelah hidup.
Namun hidup tidak selalu seindah itu.
Sejak fajar menyingsing hingga lampu kota padam, Saintang berjalan. Dari satu lorong ke lorong lain, dari satu pertigaan ke pertigaan lain. Menawarkan dagangannya dengan suara lirih dan senyum yang tak pernah padam. Bukan karena beliau tamak. Bukan karena beliau tidak mau dibantu.
Beliau hanya ingin bertahan. Dengan cara yang terhormat. Dengan kedua tangannya sendiri.
Malam itu, langkah Saintang terhenti sejenak. Dua orang perempuan muda menghampirinya. Tidak banyak kata. Tidak ada kamera. Tidak ada niat untuk viral. Mereka hanya membeli, lalu pergi diam-diam, seolah takut kebaikannya diketahui banyak orang.
Dan apa yang dilakukan Saintang?
Di tengah kekurangannya, beliau justru mengeluarkan satu bungkus kue dari keranjangnya. Diberikan gratis. Sebagai hadiah. Lalu dengan suara bergetar tapi tulus beliau berdoa:
*”Panjang umur, sehat selalu…”*
Bayangkan. Orang yang paling butuh didoakan, justru yang paling rajin mendoakan orang lain. Orang yang paling pantas menerima, justru masih sibuk memberi.
Itu bukan sekadar jualan. Itu pelajaran tentang keikhlasan.
Di usia senja, ketika orang lain memilih istirahat, Saintang masih memilih berjuang. Sendirian. Dari pagi. Sampai malam. Melawan lelah, melawan sepi, melawan waktu.
Setiap langkahnya menyimpan cerita panjang yang tidak pernah beliau ceritakan. Cerita tentang bertahan. Cerita tentang harga diri. Cerita tentang seorang ibu yang tidak mau menyerah pada keadaan.
Kisah Saintang bukan untuk membuat kita sedih lalu melupakan.
Kisah ini adalah cermin.
Cermin yang mengingatkan kita bahwa di tengah gemerlap pembangunan kota, masih ada warga kita yang berjuang demi sesuap nasi. Mereka bukan angka di data. Mereka manusia. Mereka orang tua kita.
Mereka berhak untuk diperhatikan. Berhak untuk dilindungi. Berhak untuk hidup lebih layak di hari tuanya.
Jadi jika besok kamu berpapasan dengan Saintang, atau dengan siapa pun yang seperti beliau…
Belilah dagangannya. Sekalipun kamu tidak butuh.
Jika kamu punya lebih, ulurkan tanganmu. Sekalipun beliau tidak meminta.
Karena untuk kita, itu mungkin hanya 10 ribu atau 20 ribu.
Tapi untuk Saintang, itu bisa berarti beras untuk seminggu. Itu bisa berarti beliau bisa pulang lebih cepat malam ini. Itu bisa berarti harapan.
*Saintang Dg Kebe masih berjalan.*
*Masih berjualan.*
*Masih berjuang.*
*Dan mungkin, masih menunggu, apakah masih ada hati yang peduli.*
Penulis: Kanda Ali







