Manfun Kawasa Byak Apolos Sroyer Ingatkan Bahaya Genosida, Ekosida, dan Keterbatasan Akses

JAYAPURA, wartadetik.com –  Musyawarah Besar (MUBES) II Masyarakat Adat Suku Byak di Tanah Tabi bukan sekadar forum konsolidasi kultural, melainkan momentum refleksi historis atas peran masyarakat adat Biak dalam membangun peradaban dan kemanusiaan di Tanah Papua.

Hal itu ditegaskan oleh Manfun Kawasa Byak, Apolos Sroyer, dalam ceramah kebudayaan yang disampaikan pada pembukaan MUBES II di Holtekamp, Jayapura, Selasa (03/11/2026).

Menurut Apolos Sroyer, musyawarah ini diselenggarakan untuk merefleksikan kembali panggilan eksistensial masyarakat adat, mengenang jasa dan perjuangan tokoh-tokoh adat terdahulu, serta merespons secara kritis tantangan zaman yang kini dihadapi Orang Asli Papua.

Kegiatan ini dihadiri oleh representasi adat yang luas: Tokoh Adat Biak, Supiori, Nafri, Enggros, Tobati, para tetua adat, hamba-hamba Tuhan, kalangan akademisi, perwakilan perempuan, pemuda dan mahasiswa, pimpinan organisasi adat, paguyuban, serta seluruh elemen masyarakat adat se-Tanah Tabi.

### Refleksi dan Rekonsiliasi Adat Papua

Dalam refleksi sejarahnya, Apolos Sroyer secara khusus mengenang peran dan dedikasi Almarhum Mananwir Yan Pieter Yarangga, Ketua Umum Dewan Adat Papua pertama, sebagai figur sentral dalam perjuangan martabat masyarakat adat Papua.

Ia juga menginformasikan hasil Rekonsiliasi Dewan Adat Papua yang disepakati pada 9 Agustus di Manokwari, yang menyepakati pelaksanaan Konferensi Besar Masyarakat Adat Papua (KBMAP) yang akan digelar di Ransiki pada Maret 2026.

“Mubes II ini kita maknai dengan tema besar: Merawat Ciptaan, Manusia dan Alam Semesta, sebagai tanggung jawab iman dan tanggung jawab sejarah untuk masa depan anak cucu kita,” ujar Sroyer.

### Tiga Ancaman Utama Orang Asli Papua

Dalam ceramah yang menggugah tersebut, Apolos Sroyer memetakan tiga ancaman fundamental yang kini membayangi eksistensi Orang Asli Papua:

*1. Genosida Demografis.* Kekhawatiran mendalam mengenai stagnasi jumlah penduduk asli Papua sejak tahun 1961 hingga saat ini. Fenomena ini, menurutnya, harus dikaji secara ilmiah, sosiologis, dan politis untuk memahami akar masalahnya.

*2. Ekosida.* Hilangnya ruang kelola masyarakat adat secara sistematis akibat masifnya eksplorasi dan eksploitasi sumber daya alam tanpa kendali dan tanpa persetujuan yang bermartabat dari pemilik hak ulayat.

*3. Keterbatasan Akses dan Eksklusi Ekonomi.* Dampak pembangunan yang tidak berpihak, seperti masuknya teknologi dan investasi berskala besar termasuk infrastruktur satelit dan korporasi, yang justru membatasi ruang gerak masyarakat adat dalam mencari nafkah, termasuk akses tradisional ke laut dan hutan.

“Tanah Papua adalah amanah Tuhan. Kita berkomitmen untuk menjaga dan memeliharanya, bukan mengeksploitasinya hingga punah,” tegas Apolos.

Ia menyerukan kepada seluruh elemen masyarakat adat untuk merendahkan hati, mengevaluasi kembali tugas panggilan Tuhan di atas Tanah Papua, meningkatkan kewaspadaan terhadap eksploitasi alam, serta melakukan kajian mendalam terhadap fenomena demografis dan dinamika politik sosial yang terjadi.

Langkah konkret yang didorong adalah melanjutkan koordinasi lintas elemen masyarakat adat untuk persiapan Konferensi Besar di Ransiki, serta melakukan konsolidasi internal di setiap wilayah adat untuk merumuskan langkah strategis menghadapi ancaman genosida dan ekosida.

### Pesan Sekjen DAP: Kesetaraan dan Sinergi Pimpinan

Pada kesempatan yang sama, Sekretaris Jenderal Dewan Adat Papua (DAP), Gerald Kafiar, menyampaikan arahan strategis kepada seluruh pimpinan adat.

Menurut Gerald, para pimpinan adat harus memberikan arahan yang memperkuat solidaritas, bukan fragmentasi. Ia menekankan prinsip kesetaraan di antara semua pimpinan kultur.

“Tidak boleh ada yang merasa lebih kuat, lebih senior, atau lebih khusus di antara jajaran pimpinan. Semua setara dan harus bersinergi,” ujar Gerald Kafiar.

Ia mewajibkan seluruh pimpinan untuk menjaga kesatuan dan tidak menciptakan sekat-sekat primordial di antara sesama pemimpin, serta menjalankan tugas dengan menjunjung tinggi nilai-nilai kearifan lokal.

Agenda ke depan meliputi evaluasi internal pola komunikasi dan kolaborasi antar lembaga adat agar lebih inklusif, implementasi prinsip adaptasi budaya dalam setiap operasional lembaga kultural, serta koordinasi rutin untuk memastikan sinkronisasi visi dan misi di lapangan.

MUBES II Suku Byak di Tanah Tabi ini diharapkan menjadi model konsolidasi adat yang modern, intelektual, dan berakar kuat pada nilai-nilai kekristenan dan ke-Papua-an, demi keberlanjutan hidup bersama di atas tanah yang diberkati ini.

 

B.R Korwa