WARTADETIK.COM.SUMENEP – Dunia batu akik tanah air terbukti belum redup, bahkan kian ekstrem! Sebanyak lebih dari 1.300 pencinta, kolektor, hingga pelaku usaha batu mulia dari berbagai penjuru Nusantara membanjiri gelaran Maestoh Stone Sumenep x PBP Angker Pasongsongan.
Acara yang digelar di Kabupaten Sumenep, Madura ini tidak hanya sukses menjadi salah satu pameran batu akik terbesar tahun ini, tetapi juga membuat heboh jagat maya dan lokasi acara lewat aksi uji tembak batu akik yang memicu adrenalin para pengunjung.
Pantauan di lokasi sejak pagi hari menunjukkan antusiasme yang luar biasa. Para peserta tampak memadati area kegiatan sambil memamerkan koleksi batu akik unggulan mereka. Mulai dari batu lokal khas Madura yang eksotis, hingga batu-batu kelas kontes yang menjadi buruan kolektor nasional, semuanya tumpah ruah di ajang ini.
Suasana semakin memanas dan riuh ketika sesi uji tembak dimulai. Beberapa kolektor yang membawa batu akik jawara mereka menantang nyali untuk menguji keaslian dan “kekuatan” batu tersebut secara ekstrem. Sorak-sorai penonton pecah setiap kali proses pengujian berlangsung, menambah atmosfer ketegangan sekaligus keseruan khas komunitas batu akik Nusantara.
Ketua Pelaksana Kegiatan, Suharyono, mengaku takjub dengan tingginya animo masyarakat serta keseruan rangkaian acara yang dihadirkan. Menurutnya, jumlah peserta yang menembus angka ribuan ini menjadi bukti konkret bahwa komunitas batu akik di Indonesia masih sangat solid.

”Kami sangat bersyukur karena antusiasme peserta benar-benar luar biasa. Lebih dari 1.300 pencinta batu akik hadir dalam kegiatan ini. Ini menunjukkan bahwa komunitas batu akik Nusantara masih sangat solid dan terus berkembang,” kata Suharyono kepada awak media, Senin (22/06/2026).
Suharyono menambahkan, event kolaborasi ini didesain bukan sekadar tempat pamer kemilau batu mahal atau uji kebolehan semata, melainkan sebagai ruang silaturahmi akbar untuk memperkuat jaringan ekonomi kreatif di sektor batu mulia.
”Di sini para penghobi, kolektor, dan pelaku usaha bisa saling bertemu, bertukar pengalaman, sekaligus memperkuat jaringan komunitas batu akik Indonesia,” ujarnya.
Menariknya, tidak sedikit peserta yang rela menempuh perjalanan ratusan kilometer dari luar pulau demi bisa hadir di Sumenep. Atmosfer kekeluargaan, keseruan atraksi, dan semangat menjaga warisan budaya lokal begitu terasa sepanjang acara berlangsung.
Melihat kesuksesan besar ini, Suharyono berharap event Maestoh Stone Sumenep x PBP Angker Pasongsongan bisa bertransformasi menjadi agenda tahunan yang rutin digelar. Selain melestarikan budaya, perputaran uang di event ini dinilai mampu mendongkrak ekonomi masyarakat lokal.
”Harapan kami, event ini menjadi agenda rutin yang semakin besar setiap tahunnya. Selain menjaga eksistensi batu akik Nusantara, kegiatan ini juga mampu memberikan dampak positif bagi pelaku UMKM, pengrajin, dan masyarakat sekitar,” pungkas Suharyono.
Suksesnya acara ini seolah mengirimkan pesan kuat ke tingkat nasional: Kabupaten Sumenep kini sah menjadi salah satu barometer dan basis terkuat bagi para pencinta batu akik di Indonesia. Perpaduan antara hobi, solidaritas, atraksi ekstrem, dan geliat ekonomi kreatif di acara ini diharapkan mampu memicu lahirnya event serupa di berbagai daerah lain di Nusantara.







