Pendeta David Harold Waromi: “Saya Anak Saireri, Bangga Melihat Kekompakan Byak di Tanah Perantauan” — Bawa 2.500 PIP, KIP Mahasiswa, RUU Masyarakat Adat, dan Solusi Ekonomi Pohon Jarab untuk Bio-Avtur.
Jayapura – wartadetik.com. Musyawarah Besar II Kain-Kain Karkara Byak Sub Tabi (MUBES II BYAK) Tahun 2026 kembali mendapat kehormatan dengan kehadiran Senator DPD RI Perwakilan Papua, *Pendeta David Harold Waromi*. Kehadirannya bukan sekadar kunjungan seremonial, melainkan bentuk nyata kehadiran negara melalui DPD RI di tengah masyarakat adat.

Dalam ceramahnya di hadapan peserta MUBES II di Numbay, Tanah Tabi, Rabu (4/11/2026), Senator Waromi menegaskan bahwa MUBES II adalah momentum penting untuk konsolidasi, evaluasi, peneguhan nilai-nilai adat, serta penyampaian aspirasi dan solusi pembangunan untuk masyarakat Papua.
### “Saya Anak Saireri, Saya Bangga”
Di tengah kesibukannya yang padat, Waromi menyempatkan diri hadir dan mengambil bagian secara penuh dalam MUBES II.
> “Saya sebagai anak Saireri bangga akan kegiatan MUBES II Masyarakat Adat Byak di Tanah Tabi, walaupun saya suku Serui. Kekompakan inilah yang kita butuhkan dalam mempererat persatuan dan kesatuan di negeri perantauan,” ujar Waromi.
Pernyataan tersebut disambut tepuk tangan peserta. Bagi Waromi, persatuan Orang Byak di Tanah Tabi adalah contoh konkret bagaimana identitas kesukuan tidak menjadi sekat, melainkan menjadi kekuatan untuk membangun solidaritas antar-suku Saireri di tanah perantauan.
### Peran Senator DPD RI: Komite III, Pendidikan, dan Kesehatan
Lebih lanjut, dalam kapasitasnya sebagai Senator DPD RI, Waromi menjelaskan fungsi *Komite III DPD RI* yang membidangi pendidikan, agama, kesehatan, perempuan, anak, dan olahraga.
Komite III adalah garda terdepan DPD RI dalam memastikan kebijakan nasional benar-benar menyentuh kebutuhan dasar masyarakat adat Papua, terutama di bidang pendidikan dan kesehatan.
Sebagai bukti nyata, Waromi melaporkan realisasi program yang telah diperjuangkannya:
*1. Penyaluran 2.500 PIP (Program Indonesia Pintar)* di sembilan kabupaten/kota di Papua.
*2. Bantuan KIP untuk mahasiswa hingga jenjang sarjana*, sebagai upaya memutus rantai kemiskinan melalui pendidikan tinggi bagi anak-anak adat Papua.
Program tersebut ditegaskan Waromi bukan sekadar bantuan, melainkan investasi jangka panjang untuk melahirkan generasi intelektual Papua yang berakar pada adat, tetapi mampu bersaing secara nasional.
### RUU Masyarakat Adat: Menampung Aspirasi dari Tanah Tabi
Dalam sesi yang paling substantif, Waromi memaparkan proses legislasi *perancangan Undang-Undang Masyarakat Adat* dan koordinasi yang sedang dilakukan dengan Kementerian Kebudayaan terkait pendanaan masyarakat adat.
Ia menegaskan, RUU Masyarakat Adat tidak boleh disusun dari Jakarta saja. Ia harus lahir dari suara masyarakat adat di kampung-kampung, di pesisir, dan di forum-forum seperti MUBES II Byak.
> “Saya datang untuk mendengar. Saran dan pendapat dari tokoh adat akan saya masukkan ke dalam draf Rancangan Undang-Undang Masyarakat Adat,” tegasnya.
Waromi berkomitmen melakukan koordinasi lebih lanjut dengan Kementerian Kebudayaan terkait akses pendanaan bagi masyarakat adat, agar lembaga adat tidak hanya diakui secara kultural, tetapi juga didukung secara fiskal dan kelembagaan.
### Solusi Ekonomi Papua: Pohon Jarab untuk Bio-Avtur
Puncak ceramah Waromi yang paling menarik perhatian peserta adalah paparan mengenai *solusi ekonomi Papua melalui penanaman pohon jarab (jarak) untuk bahan bakar nabati (bio-avtur).*
Waromi menyoroti keberhasilan negara lain, seperti *Timor Leste*, dalam mengelola komoditas serupa sebagai sumber pendapatan daerah yang signifikan. Menurutnya, Papua memiliki lahan, iklim, dan masyarakat adat yang sangat cocok untuk mengembangkan komoditas tersebut secara massal.
Ia mengusulkan kerja sama penanaman pohon jarab sebagai solusi ekonomi jangka panjang bagi masyarakat Papua — bukan ekonomi ekstraktif yang merusak hutan, melainkan ekonomi hijau yang merawat ciptaan Tuhan sekaligus menghasilkan pendapatan berkelanjutan.
Gagasan tersebut langsung disambut dengan kesepakatan awal untuk menjajaki kerja sama penanaman pohon jarab sebagai solusi ekonomi jangka panjang bagi masyarakat Papua.
### Pentingnya Persatuan Adat dan Identitas Biak
Dalam penutup ceramahnya, Waromi kembali menekankan pentingnya memperkuat persatuan adat dan identitas masyarakat Biak/Papua sebagai fondasi utama organisasi.
Tanpa persatuan, kata Waromi, tidak ada organisasi adat yang kuat. Tanpa identitas, tidak ada arah pembangunan yang jelas. MUBES II adalah bukti bahwa Orang Byak mampu bersatu, bermusyawarah, dan merumuskan masa depannya sendiri.
### Kesepakatan dan Langkah Berikutnya
Dari pertemuan tersebut, lahir sejumlah kesepakatan konkret:
*Dari DPD RI:*
– Menampung saran dan pendapat dari tokoh adat untuk dimasukkan ke dalam draf RUU Masyarakat Adat.
– Melakukan koordinasi lebih lanjut dengan Kementerian Kebudayaan terkait akses pendanaan bagi masyarakat adat.
– Menyiapkan sesi presentasi khusus mengenai solusi ekonomi penanaman pohon jarab kepada masyarakat.
*Dari Masyarakat / Tokoh Adat:*
– Mempersiapkan masukan terkait kebutuhan masyarakat adat untuk disampaikan kepada DPD RI.
– Mulai mempertimbangkan kerja sama operasional penanaman pohon jarak dengan *target 75.000 hektare*.
*Langkah Berikutnya:*
– Menjadwalkan pertemuan khusus untuk presentasi mendalam mengenai proyek penanaman pohon jarak sebagai solusi ekonomi bagi Tanah Papua.
– Melanjutkan koordinasi antara tim DPD RI dengan perwakilan masyarakat adat terkait realisasi program bantuan pendidikan dan kebijakan adat.
Dengan kehadiran Senator David Harold Waromi, MUBES II BYAK tidak hanya menjadi forum adat, tetapi juga menjadi jembatan antara aspirasi masyarakat adat di Tanah Tabi dengan kebijakan nasional di Senayan. MUBES II menjadi bukti bahwa adat dan negara dapat berjalan bersama untuk membangun masa depan Papua yang lebih bermartabat, sejahtera, dan berdaulat atas tanahnya sendiri.
B R. Korwa







