INDRAMAYU, wartadetik.com — Jajaran Kepolisian Resor (Polres) Indramayu, Polda Jawa Barat, terus bergerak aktif mematangkan kompetensi komunikasi para anggotanya. Langkah tersebut diwujudkan melalui kelanjutan program pelatihan Police Public Speaking & Service Communication yang menyasar personel di tingkat Kepolisian Sektor (Polsek).
Setelah sebelumnya dilaksanakan di Polsek Haurgeulis, Gantar, Patrol, dan Sukra, pelatihan serupa kini menyambangi personel di Polsek Kroya dan Polsek Gabuswetan pada Rabu (30/9/2026). Agenda tersebut diikuti secara antusias oleh para Kapolsek, personel jajaran, Aparatur Sipil Negara (ASN), hingga Pegawai Harian Lepas (PHL).
Kapolres Indramayu, AKBP Prianggo P. M., melalui Kasi Humas AKP Tarno, menegaskan bahwa kecakapan berkomunikasi merupakan instrumen penting dalam menunjang pelaksanaan tugas kepolisian sehari-hari, khususnya ketika berinteraksi secara langsung dengan masyarakat.
Menurutnya, personel kepolisian tidak hanya dituntut responsif dalam menangani berbagai persoalan di lapangan, tetapi juga harus mampu menyerap keluhan masyarakat serta mengarahkan warga pada solusi yang tepat.
“Komunikasi pelayanan dan kemampuan berbicara di depan umum sangat penting untuk membangun kepercayaan publik, meredakan tensi atau ketegangan di lapangan, serta memastikan penyampaian informasi berjalan secara lugas,” ujar AKP Tarno saat memberikan keterangan pers, Kamis (1/10/2026).
Dalam kegiatan tersebut, Polres Indramayu menggandeng Founder Respeak Indonesia sebagai pemateri utama. Pelatihan difokuskan pada penguatan kompetensi komunikasi personel agar mampu menghadirkan pelayanan Polri yang prima, humanis, dan mengayomi.
Para peserta dibekali formula komunikasi melalui tiga tahapan, yakni memastikan pesan tersampaikan, memastikan pesan dipahami, serta mengarahkan masyarakat pada solusi konkret.
Selain itu, peserta juga mendapatkan materi mengenai fondasi komunikasi makro yang meliputi clarity atau kejelasan pesan, control dalam menjaga ketenangan, confidence untuk membangun kepercayaan diri, serta connection dalam membangun ikatan melalui metode mendengar.
Aspek teknis komunikasi seperti artikulasi, volume suara, tempo, hingga intonasi dalam materi The Art of Speaking Clearly turut dibedah. Kemampuan tersebut dinilai penting dalam membentuk persepsi positif masyarakat terhadap prosedur dan pelayanan kepolisian.
AKP Tarno menambahkan, dimensi komunikasi nonverbal seperti postur tubuh, kontak mata, ekspresi wajah, hingga gestur melalui materi Powerful Non-Verbal Presence juga memiliki peranan penting dalam pelayanan kepada masyarakat.
“Pelayanan tidak hanya dinilai dari apa yang diucapkan, tetapi juga dari bagaimana sikap, bahasa tubuh, dan cara personel merespons masyarakat,” imbuhnya.
Untuk melatih kesiapan mental dalam menghadapi situasi krisis, peserta juga mendapatkan materi Communication Under Pressure melalui metode pause, listen, validate, dan clarify. Personel dilatih agar tetap tenang, mendengarkan secara saksama, serta melakukan klarifikasi sebelum mengambil keputusan maupun memberikan respons resmi melalui tahapan Speak, Respond & Explain.
Pelatihan kemudian ditutup dengan sesi Police Communication Challenge berupa simulasi sejumlah kasus yang berpotensi dihadapi personel dalam menjalankan tugas pelayanan.
Simulasi tersebut mencakup penanganan warga yang emosional di Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT), penyelesaian aduan yang berada di luar kewenangan Polri, mediasi konflik antarwarga, hingga penyampaian imbauan keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas).
Melalui penguatan kompetensi yang dilaksanakan secara simultan dan berkelanjutan tersebut, Polres Indramayu berharap seluruh jajaran Polsek semakin profesional, responsif, serta humanis dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.
Upaya tersebut sekaligus diharapkan dapat memperkuat kualitas komunikasi antara personel kepolisian dan masyarakat serta menopang peningkatan kepercayaan publik terhadap institusi Polri.
Sokibin






