MAKASSAR – Wartadetik.com – Dragon Billyard Cafe kembali bergemuruh oleh dentuman musik yang membawa penonton larut dalam atmosfer era keemasan band-band 80 hingga 90-an. Melalui gelaran “Tribute to 80–90an”, komunitas LMMC 90s sukses menghadirkan malam penuh energi, nostalgia, dan semangat persaudaraan yang menjadi ciri khas kehidupan para musisi.
Sejak nada pertama dimainkan, panggung langsung dipenuhi warna musik yang akrab di telinga para pecinta rock, pop, blues, hingga musik klasik era 80–90an. Riuh tepuk tangan, koor penonton, serta hentakan irama menciptakan suasana yang seolah menghidupkan kembali masa-masa kejayaan band-band legendaris. Bagi para penonton, malam itu bukan sekadar menyaksikan pertunjukan musik, tetapi menjadi ajang bernostalgia bersama lagu-lagu yang pernah mewarnai perjalanan hidup mereka.
Sebanyak sepuluh band tampil bergantian dengan karakter dan aransemen masing-masing, yakni V-Vortex, Sapi Betina, Talsap, Mr X, Velvet Verse, Big Babol, S3, Six Rhythm, Hobby Band, hingga penampilan pamungkas Soul Blues yang sukses menutup acara dengan suguhan musik bergenre Rock Blues yang penuh energi dan penghayatan.
Penampilan Soul Blues menjadi klimaks pertunjukan. Permainan gitar yang penuh improvisasi, hentakan drum yang solid, dentuman bass yang kuat, serta vokal yang emosional berhasil menghipnotis para penonton. Sorakan dan tepuk tangan panjang menggema di seluruh area Dragon Billyard Cafe, menandai berakhirnya malam penuh kenangan yang membekas bagi seluruh musisi maupun penikmat musik.
Meski berasal dari berbagai latar belakang dan memiliki warna musik yang berbeda, seluruh band tampil dalam satu keluarga besar LMMC 90s.
Komunitas ini terus konsisten menjadi ruang berkumpulnya para musisi lintas generasi untuk menjaga eksistensi musik era 80–90an sekaligus memperkuat rasa persaudaraan di antara sesama anak band.
LMMC 90s dimotori oleh Noval Tajang, yang akrab disapa Daeng Tajang, sosok yang selama ini aktif merangkul para musisi agar tetap memiliki ruang untuk berkarya, berbagi pengalaman, dan menjaga semangat kebersamaan melalui musik.
Menurut Noval Tajang, Tribute to 80–90an merupakan agenda tahunan LMMC 90s yang tidak hanya menghadirkan hiburan, tetapi juga menjadi wadah silaturahmi bagi para musisi dan pencinta musik.
“Tribute ini merupakan program tahunan LMMC 90s. Musik adalah bahasa universal yang mampu menyatukan lintas generasi dalam satu semangat kebersamaan. Lewat musik, kita membangun silaturahmi, solidaritas, dan persaudaraan tanpa melihat usia, profesi maupun latar belakang,” ujar Noval.
Sepanjang acara berlangsung, suasana kekeluargaan begitu terasa. Para personel band saling memberikan dukungan, menikmati setiap penampilan, berbagi panggung, serta menunjukkan rasa hormat terhadap karya satu sama lain. Tidak ada batas antargenerasi. Yang hadir hanyalah semangat bermusik yang tumbuh dari kecintaan terhadap karya-karya legendaris.
Bagi para penonton, malam itu menjadi perjalanan emosional yang membawa mereka kembali mengenang masa-masa ketika musik menjadi bagian penting dalam kehidupan. Setiap lagu yang dimainkan menghadirkan cerita, membangkitkan kenangan, sekaligus mempererat kebersamaan antara musisi dan penikmat musik.
Keberhasilan penyelenggaraan Tribute to 80–90an kembali membuktikan bahwa musik era klasik tetap memiliki tempat istimewa di hati masyarakat. LMMC 90s berharap kegiatan ini terus menjadi agenda tahunan yang dinantikan sebagai ruang apresiasi bagi para band untuk terus berkarya, menjaga warisan musik Indonesia, serta memperkuat solidaritas dan persaudaraan di kalangan musisi.
Malam itu, Dragon Billyard Cafe bukan hanya menjadi panggung pertunjukan. Lebih dari itu, tempat tersebut menjelma menjadi rumah bagi para anak band, tempat rock, blues, pop, nostalgia, dan persaudaraan berpadu dalam satu harmoni yang akan terus dikenang.
Sumber: Ketua LMMC 90s
Penulis: Kanda Ali
Editor: Tim Redaksi







