WARTADETIK.COM.BONDOWOSO – Di tengah geliat penguatan ekonomi syariah yang terus berkembang di Kabupaten Bondowoso, sebuah produk lokal berbasis pesantren mencuri perhatian publik. Garam Keluarga Santri, produk hasil kolaborasi santri dan wali santri, hadir dalam ajang Semarak Muharram dan Penguatan Ekonomi Syariah Menuju Bondowoso Berkah 2026, membawa semangat kemandirian, pemberdayaan, dan keberkahan ekonomi umat.

Keikutsertaan produk unggulan pesantren tersebut bukan sekadar menjadi bagian dari pameran, melainkan menjadi simbol lahirnya kekuatan ekonomi baru yang tumbuh dari lingkungan pesantren. Melalui slogan “Produk Unggulan Santri, Andalan Wali Santri”, Garam Keluarga Santri memperlihatkan bahwa pesantren kini mampu melahirkan produk berkualitas yang siap bersaing di tengah kebutuhan masyarakat modern.

Ajang yang berlangsung selama 19 hingga 25 Muharram 1448 Hijriah itu menjadi momentum strategis bagi para pelaku usaha pesantren untuk memperkenalkan hasil karya terbaik mereka kepada masyarakat. Di tengah deretan produk ekonomi kreatif dan usaha syariah yang ditampilkan, Garam Keluarga Santri hadir dengan identitas kuat sebagai produk yang lahir dari semangat gotong royong, kerja keras, dan nilai-nilai keislaman.

Kegiatan ini berada di bawah naungan HEBITREN (Himpunan Ekonomi Bisnis Pesantren) Bondowoso, sebuah wadah penguatan ekonomi pesantren yang digagas oleh Pondok Pesantren Raudhatul Falah, Kecamatan Cermee, Bondowoso. Melalui gerakan tersebut, pesantren tidak hanya menjadi pusat pendidikan agama dan pembentukan karakter, tetapi juga berkembang menjadi pusat pemberdayaan ekonomi yang mampu menciptakan lapangan usaha dan meningkatkan kesejahteraan umat.

Dalam pameran tersebut, Garam Keluarga Santri menampilkan produk garam konsumsi yang diproses secara higienis, berkualitas, dan dikemas dengan tampilan modern sehingga layak menjadi pilihan kebutuhan rumah tangga masyarakat. Kehadirannya menjadi bukti bahwa inovasi dan produktivitas dapat tumbuh dari lingkungan pesantren tanpa meninggalkan nilai-nilai syariah yang menjadi fondasinya.

Pengasuh Pondok Pesantren Raudhatul Falah sekaligus penggerak HEBITREN Bondowoso, Lora Moh. Auliya’ur Rasyid, menegaskan bahwa pengembangan produk pesantren merupakan bagian dari ikhtiar besar untuk membangun kemandirian ekonomi umat dari akar rumput.

“Kami berharap Garam Keluarga Santri semakin dikenal dan diterima oleh masyarakat Bondowoso maupun daerah lainnya. Produk ini lahir dari kerja keras para santri dan wali santri yang memiliki semangat untuk berkontribusi dalam membangun ekonomi umat secara nyata,” ujar Lora Moh. Auliya’ur Rasyid, Jum’at (19/06/2026)

Menurutnya, pesantren harus mampu menjawab tantangan zaman dengan menghadirkan program-program produktif yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat sekaligus menjadi sumber pemberdayaan ekonomi yang berkelanjutan.

“Lebih dari sekadar produk konsumsi, Garam Keluarga Santri adalah simbol kemandirian pesantren. Kami ingin membuktikan bahwa pesantren mampu melahirkan usaha yang produktif, memberikan nilai ekonomi, dan menjadi bagian dari gerakan besar penguatan ekonomi syariah yang membawa keberkahan bagi masyarakat,” tambahnya.

Semarak Muharram tahun ini menjadi panggung penting bagi tumbuhnya optimisme baru dalam dunia ekonomi pesantren. Kehadiran Garam Keluarga Santri menunjukkan bahwa santri tidak hanya dipersiapkan menjadi generasi yang unggul dalam ilmu agama dan akhlak, tetapi juga memiliki kemampuan membangun usaha yang mandiri, inovatif, dan berdaya saing.

Dengan semakin banyaknya produk pesantren yang hadir di ruang publik, harapan menuju terwujudnya Bondowoso Berkah 2026 bukan lagi sekadar cita-cita, melainkan sebuah gerakan nyata yang terus tumbuh dari pesantren untuk masyarakat. Garam Keluarga Santri menjadi salah satu bukti bahwa ekonomi kerakyatan berbasis syariah dapat berkembang kuat, mengakar, dan memberikan manfaat luas bagi umat.