INTERNASIONAL

Rusa mati dengan tujuh kilo sampah di perut

Wartadetik.com, Jakarta – Seekor rusa liar di Thailand ditemukan mati dengan tujuh kilogram sampah plastik dan limbah lain termasuk celana dalam, saset kopi dan bungkus mi instan, temuan yang membuat marah banyak kalangan termasuk netizen.

Petugas Taman Nasional Thailand mengatakan Selasa (26/11), temuan ini menunjukkan begitu banyaknya sampah yang tersebar di hutan dan juga laut serta sungai.

Kriangsak Thanompun, direktur Taman Nasional Khun Sathan, mengatakan, “Temuan plastik di perut, merupakan salah satu penyebab matinya rusa.

Dia juga mengatakan kematian diakibatkan tersumbatnya usus.

Dalam laman Facebooknya, Taman Nasional di Provinsi Phrae mengunggah foto-foto rusa yang mati akibat berkilo-kilo sampah ini.

Rusa – yang beratnya sekitar 200 kg dengan panjang 230 cm dan tinggi 135 cm ini – diperkirakan mati dua hari sebelum ditemukan.

Tidak ada luka-luka di tubuh rusa jantan berusia 10 tahun itu namun para petugas mengatakan kondisinya cukup mengenaskan dengan bulu rontok dan kuku kaki depan terlepas.

Thailand termasuk salah satu negara pengguna plastik terbesar dengan pemakaian kantong plastik sekali pakai sekitar 3.000 kali setahun, untuk penggunaan apapun.

Ratusan pengguna yang marah di laman Facebook Taman Nasional Thailand antara lain menyatakan kesedihan karena “sedikitnya makanan di hutan sehingga rusa atau binatang lain makan apa yang mereka dapat.”

Pengguna lain Prakarn Chuyluem menulis, “Tempat binatang adalah di hutan, dan orang yang ke hutan seharusnya menjaga kebersihan, tak hanya di hutan, tapi juga di tempat lain, seperti air terjun dan laut.”

Sebelumnya, dugong juga ditemukan dengan perut penuh sampah plastik setelah otopsi.

Hewan yang diberi nama Mariam itu mati pertengahan Agustus lalu akibat menderita infeksi yang diperparah oleh kumpulan plastik di dalam perutnya, menurut pejabat Thailand.

Upaya mengurangi sampah plastik di taman nasional

Kriangsak mengakui bahwa masalah sampah merupakan persoalan kronis di taman nasional.

Menurutnya para petugas telah lama berupaya meningkatkan kesadaran masyarakat agar tidak buang sampah. Namun sampah tetap saja banyak bertebaran, diperkirakan dari orang-orang yang berkunjung ataupun penduduk sekitar.

Ia memperkirakan sampah di seputar taman nasional sekitar delapan ton per tahun, tergantung jumlah pengunjung.

Tanggal 12 November lalu, kabinet menyepakati usulan kementerian lingkungan untuk mengurangi penggunaan tas plastik. Melalui usulan yang akan diterapkan pada 1 Januari 2020 ini, warga diminta untuk menggunakan kantong plastik lebih dari sekali.

“Kami harus memberikan contoh kepada yang lain. Kami harus memulainya di organisasi kami dan kemudian dikembangkan ke masyarakat di seputar taman nasional,” kata Kriangsak kepada BBC Thailand.

“Pengunjung yang datang ke taman nasional juga diminta untuk tidak membawa plastik ke kawasan. Dan bila mereka ada sampah, harusdibuang di tempat yang disediakan,” tambahnya.

Sumber : BBC Indonesia