INTERNASIONAL

Remaja jadi ujung tombak aksi melawan perubahan iklim

Wartadetik.com – Anak muda, bahkan remaja, kini makin kritis dan menjadi ujung tombak untuk melawan perubahan iklim (climate change) yang kian serius. Kalangan remaja pun akan menjadi ujung tombak dalam gerakan itu, seperti demo besar-besaran serentak di seluruh dunia selama sepekan pada Jumat (20/9/2019) hingga Jumat (27/9).

Gerakan ini untuk menggugah para pengambil keputusan atau perwakilan pemerintah di seluruh dunia yang akan mengikuti Konferensi Iklim PBB (Climate Action Summit) di New York, AS, pada Senin (23/9).

Satu di antara anak muda yang giat menyuarakan perlunya perhatian pada perubahan iklim ini adalah Jerome Foster II. Pemuda 17 tahun asal Amerika Serikat (AS) ini rutin berdemo tentang perubahan iklim di depan Gedung Putih, Washington DC, setiap Jumat.

“Kami mengajak siapapun untuk bergabung, kita harus melakukan pergerakan lintas generasi, budaya, usia, latar belakang. Kami butuh orang dewasa untuk mendukung, kita harus berjuang demi masa depan,” tutur Jerome dalam jumpa pers online yang digelar lembaga peduli lingkungan 350.org untuk menyambut gerakan melawan perubahan iklim pada Kamis (12/9/2019) malam.

Bill McKibben, pendiri 350.org, mengatakan gerakan melawan perubahan iklim ini akan diikuti ribuan remaja dan anak muda di seluruh dunia. “Ini akan menjadi peristiwa terbesar dalam menyuarakan perubahan iklim,” ujar McKibben.

Demo selama sepekan penuh pada minggu depan akan terjadi serentak di seluruh dunia. Di Indonesia, demo akan terjadi di Jakarta, Bengkulu, Yogyakarta, Bali, dan Ambon.

Panitia dari 350.org menyatakan demo akan meliputi 3.600 acara aksi di 123 negara. Sekitar 1.000 perusahaan swasta juga akan ikut serta. Misalnya, para karyawan dari perusahaan e-commerce Amazon sudah menyatakan siap turun ke jalan.

Lebih lanjut McKibben menyatakan dunia harus dilepaskan dari pengaruh buruk bahan bakar fosil seperti minyak dan batu bara yang sudah berabad-abad digunakan manusia di bumi. Sudah saatnya dunia beralih pada energi terbarukan agar bumi bersih dari emisi karbon dan polusi.

Bumi yang makin panas, iklim yang tak menentu dan ekstrem, serta bencana lingkungan yang makin sering terjadi adalah dampak dari perubahan iklim. Pemanasan global diperkirakan bakal menaikkan suhu bumi antara 3-4 derajat Celsius pada 2100.

Itu sebabnya dibutuhkan tindakan yang drastis untuk mengadangnya. McKibben sadar kesadaran soal ini ini tidak mudah, tapi beruntung anak-anak muda mulai bergerak karena mereka paham bahwa ini menyangkut masa depan mereka.

“Kabar baiknya, industri bahan bakar fosil mulai kehilangan gigi. Kita harus segera menggantikannya dengan energi terbarukan agar suhu global tetap rendah, dunia harus bergerak untuk sebuah perubahan,” tuturnya.

Sementara itu, ilmuwan Dr Doreen Stabinsky mengatakan sekitar 1.000 peneliti akan turut pula dalam gerakan ini. Stabinsky mengatakan publik secara umum memang makin sadar pada perubahan iklim, terutama sejak PBB menggelar Konferensi Iklim di Copenghagen, Demark, pada April lalu.

“Saya sudah lama terlibat langsung dengan isu perubahan iklim, kami tahu harus melakukan apa. Tapi kami butuh dukungan politik dari pemerintahan di seluruh dunia, kami butuh kepemimpinan,” katanya dalam jumpa pers tersebut.

Mengupayakan pesan soal perubahan iklim

Aktivis lingkungan asal Filipina, Mitzi Tan (21), mengatakan bahwa kesadaran melawan perubahan iklim memang tidak mudah dan butuh kerja keras. Apalagi di negara-negara dunia ketiga yang masih menghadapi masalah hidup sehari-hari seperti sandang, papan, dan pangan.

Tapi masyarakat tetap perlu disadarkan. Meski tidak disadari, perubahan iklim sudah membuat kehidupan mereka terganggu. Misalnya, kenaikan harga BBM, polusi udara, serta iklim yang tak menentu dan cuaca ekstrem.

Belum lagi terminologi perubahan iklim yang bisa jadi untuk kebanyakan orang terlalu mengawang-awang. Masyarakat secara umum boleh jadi tak merasakan dampaknya secara langsung.

Lalu bagaimana mereka menyampaikan pesan soal perubahan iklim agar mudah diterima masyarakat awam?

“Kami biasanya berbicara dengan teman-teman sebaya, diskusi dan kadang presentasi tanpa bermaksud menunjukkan bahwa kami lebih pintar dari mereka. Kami bicara langsung (face to face) dengan mereka,” ujar Ruby, pelajar SMA dari Afrika Selatan, menjawab pertanyaan Beritagar.id.

Rekan Ruby, Ayaka, menambahkan bahwa mereka biasanya menyesuaikan konteks dengan latar belakang lawan bicaranya. Jika rekan sebaya mereka dari keluarga petani, mereka akan bicara dampak perubahan iklim terhadap pertanian.

“Misalnya kesulitan mereka di bidang pertanian. Panen yang gagal, kekeringan, kebanjiran, dan cuaca ekstrem,” kata Ayaka.

Sumber : Beritagar.id