PERISTIWA

OKP dan Ormawa Pase Minta Polres Batubara Bebaskan Mahasiswa Unimal

Wartadetik.com, Lhokseumawe- Puluhan mahasiswa tergabung dalam Organisasi Kemasyarakatan Pemuda (OKP) dan Organisasi Mahasiswa (Ormawa) Pase Bersatu meminta kepada pihak kepolisian agar segera membebaskan salah satu mahasiswa Hukum Tatanegara Fakultas Hukum Universitas Malikussaleh (Unimal), Aceh Utara, Arwan Syahputra. Pasalnya, dia diketahui sedang diamankan kepolisian resort Batubara, Sumatera Utara, terkait terjadi aksi demonstrasi tolak UU Omnibus Law Cipta Kerja beberapa waktu lalu.

Untuk diketahui, Arwan Syahputra merupakan Korlap aksi, yang juga Ketua HMI Komisariat Hukum Unimal Cabang Lhokseumawe-Aceh Utara. Arwan sendiri diketahui diamankan kepolisian bersama 42 orang lainnya, setelah terjadi chaos (kekacauan) yang diwarnai insiden pelemparan batu ke arah polisi sehingga mengenai Kasat Sabhara Polres Batubara di depan Kantor DPRD, Selasa 12 Oktober 2020 lalu.

Terkait peristiwa tersebut,
Koordinator Lembaga Eksekutif Mahasiswa Hukum Indonesia (LEMHI) Wilayah Aceh, Muhammad Fadli, menyampaikan kronologisnya kepada wartawan, di Lhokseumawe, Kamis 22 Oktober 2020. Fadli mengatakan, mulanya pada 12 Oktober 2020 telah terjadi aksi demonstrasi tolak UU Omnibus Law Cipta Kerja di Kantor DPRD Batubara, Sumatra Utara, yang diikuti oleh elemen masyarakat, buruh, mahasiswa, dan pelajar.

Sebelumnya, kata Fadli, berdasarkan informasi bahwa aksi itu awalnya berjalan damai. Namun, setelah kemudian ada provokator maka ada yang melempar batu kearah gedung DPRD Batubara, sehingga mengenai kepala Kasat Sabhara Polres Batubara. Setelah itu terjadi chaos yang membuat para demonstran juga ikut terluka. Kemudian, usai aksi tersebut ada sekitar 42 orang para demonstran diamankan ke Polres Batubara, dan sampai saat ini dari jumlah itu sudah 7 orang lebih yang dijadikan sebagai tersangka atas aksi yang berujung chaos tersebut.

“Akan tetapi berita duka pun
terjadi yang kita rasakan, menurut informasi pada 20 Oktober 2020 ada dua orang yang menjemput Arwan Syahputra di salah satu kafe Lhokseumawe, Aceh, ketika ia sedang melanjutkan aktivitas perkuliahannya melalui daring.
Penjemputan paksa itu dilakukan dengan menggunakan mobil dan sampai saat ini Arwan hilang kontak dengan teman-teman mahasiswa lainnya,” ujar Muhammad Fadli.

Berdasarkan informasi terkini, lanjut Fadli, saat ini Arwan sudah diamankan ke Polres Batubara untuk menjalani pemeriksaan terkait status hukumnya yang sudah menjadi tersangka. Maka pihaknya terdiri dari OKP dan Ormawa Pase sangat kecewa terhadap tindakan pihak kepolisian. Padahal, menyampaikan aspirasi di depan publik itu dijamin oleh konstitusi dalam UUD 1945, dan pada Pasal 28 juga menjamin tentang penyampaian pendapat di muka umum. Kemudian, juga diatur kembali di dalam Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1998 tentang Kemerdekaan Menyampaikan Pendapat di Muka Umum.

“Arwan merupakan sebagai Korlap Aksi, dia menyampaikan aspirasi publik untuk didengarkan oleh pemerintah. Terkait terjadi chaos dan sebagainya itu adalah taktis yang terjadi di lapangan, yang kita inginkan yaitu hukum pidana ini seharusnya harus menjadi ultimum remedium atau langkah akhir dalam penyelesaian masalah. Karena ketika aksi itu Arwan Syahputra juga tidak melakukan provokatif atau membangun narasi-narasi yang berujung pada anarkisme,” ungkap Fadli.

Kemudian perlu dipahami secara bersama bahwa, lanjut Fadli, seharusnya pidana itu melekat pada personality seseorang. Padahal Arwan saat aksi itu terjadi dengan sangat baik mengatur kendali peserta aksi di lapangan, karena dia selaku Korlapnya.

Presidium Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Unimal, Arisky RM, juga mengungkapkan penangkapan dilakukan pihak kepolisian terhadap Arwan Syahputra merupakan salah satu bentuk nyata pembungkaman ruang demokrasi di Indonesia. Sebagaimana diketahui bersama Omnibus Law adalah problematika nyata untuk rakyat Indonesia.

“Tentunya di sini teman-teman mahasiswa maupun elemen masyarakat lainnya berada di garis perjuangan untuk membela masyarakat, yang akan tertindas nantinya beberapa tahun kedepan. Maka yang sangat kita sayangkan adalah pihak kepolisian melakukan penjemputan secara paksa terhadap mahasiswa (Arwan) tersebut, yang mana nantinya akan membangun perspektif negatif dari pihak terkait,” sebut Arisky RM.

Padahal, kata Arisky, dia (Arwan Syahputra) hanya aktivis. Jadi, jangan sampai diperlakukan semacam pidana seperti kasus narkoba atau kriminal lainnya terhadap Arwan. Dia adalah aktivis demokrasi yang ingin memperjuangkan hak-hak masyarakat. Oleh karena itu, pihaknya dari BEM Unimal mengecam tindakan dilakukan pihak kepolisian tersebut.

“Kami meminta kepolisian untuk membebaskan saudara Arwan Syahputra. Kita pun siap melakukan penjemputan terhadap Arwan di mana pun dia berada. Kami akan melakukan pressure dan mengkaji secara bersama-sama bagaimana prosedur hukum tentang penangkapan saudara Arwan tersebut,” ujar Arisky. (Iva)