PERISTIWA

Kapolres Lhokseumawe Serahkan Biogas untuk Masyarakat  

Wartadetik.com, Lhokseumawe– Personel Polsek Meurah Mulia dari jajaran Polres Lhokseumawe berhasil menciptakan inovasi berupa biogas dengan memakai kotoran lembu. Inovasi itu diciptakan dalam mensinkronkan dengan qanun ketertiban ternak yang berlaku di kecamatan tersebut.

Inovasi itu muncul dari tim polsek setempat yang dikoordinir Bripka Ham Jaya. Setelah menciptakan biogas tersebut, lalu diserahkan kepada sejumlah masyarakat gampong khususnya di Kecamatan Meurah Mulia.

Biogas itu diserahkan langsung secara simbolis oleh Kapolres Lhokseumawe AKBP Eko Hartanto, kepada salah seorang warga Gampong Meunasah Mee, Kecamatan Meurah Mulia, Aceh Utara, Kamis, 4 Juni 2020. Dalam penyerahan itu kapolres didampingi Kapolsek Meurah Mulia, Ipda Sirya Iqbal, Camat Meurah Mulia, Fuad Cahyadi, serta sejumlah unsur Muspika lainnya.

Eko Hartanto, kepada wartawan mengatakan, pihaknya menyerahkan biogas kepada salah seorang warga desa itu merupakan hasil inovasi dari personel Polsek Meurah Mulia. Itu memanfaatkan kotoran lembu yang diolah menjadi biogas dan menjadi pengganti dari gas elpiji yang beredar di tengah masyarakat, itu untuk mengantisipasi kekurangan energi khususnya gas dimaksud.

“Hal ini kita sudah meminta kepada camat setempat untuk dapat dikembangkan di masing-masing desa daerah tersebut, untuk dimanfaatkan oleh masyarakat. Sedangkan proses pembuatan biogas dari kotoran lembu itu, anggota (polisi/polsek) kita sudah enam kali gagal untuk uji coba sebelumnya, tapi akhirnya inovasi itu berhasil digunakan,” kata Eko Hartanto.

Eko Hartanto menambahkan, berkenaan inovasi seperti itu pihaknya mensupport para anggota. Untuk itu, polres nantinya akan memberikan penghargaan bagi anggota yang kreatif atau memiliki inovasi dalam melaksanakan tugas dan bermanfaat bagi masyarakat.

Sementara itu, personel Polsek Meurah Mulia, Bripka Ham Jaya, menyebutkan bahwa dirinya berinovasi mulanya melihat proses pembuatannya (biogas) di YouTube maupun berita. Setelah dikaji dan ternyata kotoran ternak itu bisa diolah ke biogas. Prosesnya mudah sekali dan hanya memanfaatkan drum minyak berkapasitas 220 liter, kemudian diperlukan beberapa alat pendukung lainnya seperti pipa dan kompor gas.

“Selama pandemi covid-19 ini, saya sudah  berhasil membuat 10 unit untuk diserahkan kepada warga. Bahan bakunya sangat mudah didapatkan, kita kumpulkan kotoran ternak yang ada di desa dan dicampurkan dengan air. Di dalam drum itu diisi sekitar 2/3 kotoran lembu, setelah diendapkan sepekan maka di ruang yang kosong dalam drum akan muncul biogas,” ujar Ham Jaya.

Ham Jaya menjelaskan, drum itu dilobangi di bagian atas dan samping untuk melekatkan dua pipa ukuran besar. Satu pipa fungsinya untuk memasukkan kotoran lembu, dan satu lagi digunakan untuk mengeluarkan ampas kotoran lembu yang bisa jadi pupuk kompos. Sementara di bagian lainnya dibuat lobang kecil untuk bisa dilas selang kecil yang berfungsi mengalirkan biogas ke kompor.

“Dalam satu tabung (drum) itu pengisiannya bertahan sampai dua bulan masa produksi gasnya. Kalau misalnya kita menggunakan kotoran lembu yang masih basah, maka butuh waktu cuma sepekan sudah dapat menghasilkan gas. Apabila digunakan bahan baku atau kotoran lembu yang sudah kering, berarti harus menunggu waktu tiga sampai empat minggu,” ungkap Ham Jaya. (Ival)