NASIONAL

Di Lhokseumawe, Bocah 9 Tahun Dipaksa Ngemis Orangtua

Wartadetik.com, Lhokseumawe – Satuan Reserse Kriminal (Reskrim) Polres Lhokseumawe UG dan MI orangtua dari Maulindar Syaputra bocah berusia sembilan tahun yang menjadi korban penganiyaan oleh kedua tersangka dengan cara diikat dan dirantai.

Korban dianiyaya oleh ibu kandung dan ayah tirinya (MI) karena tidak berhasil membawa uang hasil mengemis sesuai dengan ketentuan yang tersangka sebutkan.

Kapolres Lhokseumawe, AKBP Ari Lasta Irawan melalui Kasat Reskrim Indra T Herlambang, mengatakan, bermula awal itu pertama kali UG (ibu kandung) melakukan pemukulan pada saat korban berusia enam tahun, dengan cara mencubit di bagian pahanya dengan sekuat tenaga sehingga paha bocah tersebut mengalami memar biru

“Korban dipukul karena tidak mau menuruti perintah ibunya menjadi pengemis di sekitaran Kota Lhokseumawe.

 Kemudian pada tahun 2018, korban bersama kakak kandungnya kembali mengemis akan tetapi pada saat itu, mereka tidak bisa menghasilkan uang dengan jumlah yang sudah ditetapkan tersangka yakni Rp100 ribu,” kata Kasat Reskrim, Jumat (20/9).

Sambung Kasat, karena korban tidak berhasil membawa pulang uang sesuai target, tersangka marah hingga kemudian memukul korban dengan cara melibas dibagian belakang badan dengan menggunakan tali rem sepeda yang terbuat dari besi sebanyak tiga kali sehingga belakang badan korban memar.

“Karena kejadian itu, korban bersama kakak kandungnya lebih giat mencari uang dari hasil ngemis, sehingga pernah pada suatu malam mereka tidak bisa mendapatkan uang sesuai target tersangka.

Kemudian tersangka memukuli tersangka dengan salah satu gelas kopi di bagian kepala hingga mengeluarkan darah. Akan tetapi korban hanya diam dan membersihkan darahnya dengan tisu yang mengalir dikepala,” jelasnya.

Lanjutnya, awal Januari tahun 2019 korban tidak mendapatkan uang dan korban memutuskan untuk tidak pulang ke rumah karena takut akan dipukul ibu kandungnya.

Dan diperjalanan korban berjumpa dengan MI (ayah tirinya) kemudian korban ditangkap dan ditampar, kemudian korban di bawa ke rumah dan diikat kembali dengan menggunakan rantai besi. Kemudian tersangka memaki korban sambil menginjak-injak rantai yang sudah diikat dikaki korban, hingga mengalami luka memar. Korban diikat dengan rantai saat itu lebih kurang empat hari lamanya.

“Pada 16 September 2019, korban pulang ke rumah dari mengemis sekitar pukul 00.00 WIB, korban mendapatkan penghasilan sekitar Rp60 ribu, sesampai dirumah korban melihat UG dan MI sudah terlelap tidur, dan korabn pun juga ikut istirahat. Lalu sekitar pukul 05.00 WIB, korban bangun dan takut dimarahi dan dipukul,” ungkapnya.

Tambahnya, sehingga korban memutuskan untuk kabur dari rumah dengan berjalan kaki menuju ke rumah kakek kandungnya selama satu hari karena tidak berani untuk pulang ke rumah. Dan 17 September 2019 kemarin, sekitar pukul 06.00 WIB, korban sedang istirahat dirumah temannya di Desa Pusong, tiba-tiba MI datang dan langsung menarik tangan korban dan membawa korban ke becak dayung dengan memaksakan korban untuk pulang ke rumah sambil menamparnya.

“Sesampainya di rumah MI langsung mengikat korban dengan menggunakan rantai besi yang dikunci dengan gembok,” pungkas Kasat.

Tambahnya, saat ini kedua tersangka sudah diamankan di Mapolres Lhokseumawe, untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya, kedua tersangka di jerat pasal 88 Jo Pasal 76 huruf (i) Undang-Undang Republik Indonesia (UU-RI) nomor 35 tahun 2014 Tentang Perubahan atas UU RI nomor 23 tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak.

Atau Pasal 44 ayat (1) Jo Pasal 45 ayat (1) Undang-Undang Republik Indonesia (UU-RI) nomor 23 Tahun 2004 Tentang Pasal kekerasan Dalam Rumah Tangga Jo Pasal 65 KUHPidana.